Archive for September 2014

Hari ini saya akan kembali bercerita.
Sekilas cerita dari banyak cerita dari kehidupan saya.

Dihari ini saya pergi berobat sama kedua ortu saya, dimana yang mengalami sakit adalah papa saya.
Ya papa saya sudah 1 bulan belakangan ini mengalami gejala-gejala penyakit VERTIGO.

Ya VERTIGO, penyakit yang termasuk juga bisa membuat seseorang mendekati STROK dan kemudian meninggal. Jadi yang belum tau apa itu VERTIGO. Vertigo dapat adalah salah satu bentuk gangguan keseimbangan dalam telinga bagian dalam sehingga menyebabkan penderita merasa pusing dalam artian keadaan atau ruang di sekelilingnya menjadi serasa 'berputar' ataupun melayang. (Sumber Wikepedia).

So, gejala tersebut sekarang sedang dialami papa saya.
Ya sebenarnya banyak saja yang menyebabkan anda bisa terkena penyakit VERTIGO ini.
1. Dalam pola makan anda sehari hari.
2. Dalam pola beristirahat anda, ya tidur tidak teratur sering begadang, dll.
3. Sering banyak beban pikiran, yang membuat anda menguras banyak energi. 
    Contohnya, ketika "Anda putus tapi belum bisa move-on" :D 
    Ini mungkin saja bisa menyebabkan VERTIGO Stadium 2.

Dan hari ini untuk sekian kalinya papa saya berobat ke dokter yang sama. Ya selama dipekanbaru saya hanya bisa mendengar kabar saja. Jadi gaak tau tempat berobatnya dimana.

Selesai makan malam dirumah, saya dan kedua orang tua saya pergi ke tempat berobat. Ya saya termasuk orang yang bosan dengan kata "MENUNGGU" karena "MENUNGGU" adalah hal yang saya benci. Ya untung saja pasien tidak terlalu banyak.

Ya sambil menunggu pasien yang didalam. Saya keluarkan ANDROID saya untuk bermain Game.
Ya mengisi kekosongan saat menunggu, kalau gak main GAME, UPDATE STATUS. Namanya juga anak zaman. Ya saat menunggu alangkah baiknya begitu.

10 Menit kemudian, orang tua saya dipanggil buat di check. Ya saya menunggu saja diluar karena diluar ada TV kebetulan Sinetron "Ganteng Ganteng Serigala". Daripada ikut ke dalam gak ada TV, enak nonton GGS sambil main game. Ya menunggu sambil melakukan aktivitas yang kita senangi biasanya waktu tidak terasa lama. 

Tidak beberapa menit kemudian, saya dipanggil suster untuk masuk ke dalam.
Ya saya sedikit cemas, takut kenapa2.
*Masuk dengan perlahan*
Ketika masuk saya langsung disambut oleh dokter tersebut. Ya hal-hal yang saya bayangkan alhamdullilah tidak terjadi. 
*Duduk dengan santai*

Ya mulailah percakapannya :
D : Dokter
R : Gue

D : Siapa namanya ?
R : Rendy dok,
D : Owh, Kuliah dimana ???
R : *sebutin selengkap2nya* Kuliah di Politeknik Caltex Riau dok.
D : Wow, bagus tuh....
R : "Bicara dalam hati" *Saya berani bertaruh dokter pasti gak tau kampus saya*
D : Gimana ip nya bagus ?
R : "Bicara dalam hati" "Ini dokter baru kenal dikit aja sama gue, kok langsung tembak nanya IP. Sakit dok, sakit ! *gantian berobat* " Alhamdullilah masih bagus dok, terakhir IPK masih 3 ke atas. 
D : Oya ? Bagus tuh.

Tapi, disaat selah2 percakapan tersebut. Dokter tidak bertanya jurusan apa saya.
Dokter langsung bercerita.

D : Saya buk, pak. Datang ke wisudahan anak saya. Ya wisudahan anak saya di Binus. Jadi saat wisuda itu setiap mahasiswa dipanggil. Misalnya Arita dengan IPK 3,7 bla2. Dan ada salah satu mahasiswa yang membuat saya terkagum, dan semua orang mungkin pengen anaknya seperti dia. Mahasiswa tersebut  dipanggil dengan IPK 4.0. Pertanyaan saya?  Apakah IPK 4.0 menjamin dia sukses ? Apakah IPK 4.0 membuat seseorang itu berhasil ? Apakah IPK 4.0 membuat orang lebih mudah diterima kerja ? Belum tentu buk, pak, 'ke orang tua saya'. 

D : Saya dengar rendy, tegang ya banyak takut ya ?
R : Saya cuma takutnya saat UAS aja dok.

D : Waa, kamu seharusnya jangan gtu. 
Saya waktu tingkat 5. Kalau sekarang mungkin semester 10, besok saya ada test. Buku yang dipelajari setebel2 Kitab. Ya karena saya ingin bisa menjawab buat besok saya pelajari. Jam 4 baru saya tidur pak,buk. Pas diruang kelas, saya menangis pak,buk. Ngak bisa saya menjawabnya, lupa semua yang dipelajari kemarin. Padahal baru tadi pagi saya belajar.
R : "Dokter aja belajarnya SKS = Sistem Kebut Semalam, dia aja SKS bisa jadi dokter. Masa saya SKS=Sistem kebut sejam ngak bisa lebih dari seorang dokter" *ngayaaaaaal tingkat tinggi*

Dokter kembali lagi bertanya.
D : Kamu cita cita kamu ingin jadi apa ?
R : *Pertanyaan ini kalau waktu kecil gampang jawabnya kalau sudah besar bingung mau jawab apa* *Dalam hati jawabnya waktu kecil cita2 aku ingin jadi Dokter* 
D : Atau pengen jadi macam papa ?
R : Ya dok, saya pengen jadi macam papa. *untung dokter itu jawab pertanyaannya sendiri*

Dokter pun tidak bosan bertanya ...
D : Kamu ingin seperti papa kamu atau lebih seperti papa ? 
R : Ya saya ingin lebih dari papa saya dok ! *tekad yang kuat* *tunjuk gigi ke dokter*
D : Kamu yakin akan lebih dari seperti papamu ? Seberapa besar peluang kamu akan lebih sukses daripada papamu ?
R : *gosok dada* "Main2 peluang dokter neh, Martikulasi aja matematika gue C dok" 
      Ya emang belum nampak dok, tapi saya berusaha sekuat mungkin dok.

Dokter kembali bercerita.
D : Ada teman saya kedokteran juga, dia pintar sekali. Setiap jumpa sama anaknya dia terus menekankan anaknya untuk belajar. Tapi logikanya kalau dokter yang pintar biasanya pasiennya banyak. Ini pasiennya tak ada sama sekali. Kira2 menurut kamu apa penyebabnya ?
R : *Apakah gue sudah sidang akhir ? asyik ditanya terus* 
Menurut gue dok, "Kurang pergaul"
D : Bisa jadi, terus ?
R : Kurangnya cara menyampaikan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan.
D : Ya betul, tapi kamu tau ngak sebetulnya apa. Dua hal yang mengalami orang itu sukses, yaitu rasa Ragu2 / Takutnya. Jadi menghadapi sesuatu itu harus santai, Santai bukan berarti tidak belajar. Kamukan baru S1 kan ? 
R : Iya dok.
D : S1 itu belum pendidikan yang sebenarnya, istilahnya kamu masih dalam bangku permainan. S2 juga tapi sudah masuklah dalam permainannya. S3 itu baru namanya pendidikan.
R : *anguk2 kepala*


Dokter kembali bercerita .
D : Sama macam nasib seorang profesor. Dia juga seorang dokter, seorang profesor pasti udah menemukan teori atau temuan yang baru dibidangnya masing2. Tetapi kenapa dia juga sepi pasien yang berobat ke dia ? Ya itu masalahnya, karena dia ragu ragu dalam suatu hal tindakannya. Disaat pasien telah diperiksa, saat si dokter memberikan resep obat kepada pasien. Dia ragu memberikan resep buat pasiennya. Selalu merobek kertas resep, saat menulis resep terus dia pikir terus dia robek kertasnya. Akhirnya pasien menganggap dokter ini tidak ahli dalam bidangnya. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh dokter tersebut ? Saat membuat resep, seorang dokter seharusnya tidak ragu untuk memberikan resep tersebut. Tetapi dokter ini, dia memikirkan semuanya. 

Saat ku kasih pasien ini obat ini, kira2 membantu gak ya ?
Oya obat inikan ada effect sampingnya !
Tampaknya obat ini tidak cocok dengan pasien ini !

Hal inilah yang membuat dokter tersebut kehilangan pelangganya.
R : Hmm gitu ya dok..
D : Jadi ya intinya jangan Takut2lah . . . Hadapin saja kan masalah itu selalu saja muncul. Jadi ya hadapi saja.
D : *Dokter manggil perawat untuk panggil pasien berikutnya*
R : Oke dok, makasih ya dok.
D : Ya sama2 ren
R : *Kok jadi gue yang dikasih resep obat*

Keluar dari ruangan tersebut. Langsunglah mama gue ngomel2. 
M : Bang, abang ikut ke dalam kena tambahan mama 50 rbu bayar jadinya.
R : Kenapa gitu ma ? Kan abang tngk berobat.
M : Ya iyalah, abangkan nguras waktu dokter itu.
R : Hmm, pantesan kawan2 gue di Medan banyak disuruh ortunya buat jadi seorang dokter. Ngomel2 15 mnit aja udah bayar 50 rbu. 

Ya inilah sekilas cerita gue semoga bermanfaat dan memberi teladan bagi kita semua.

Kalau anda suka mohon diLike.
Kalau anda menjadikan tread ini Favorite mohon di SHARE.
Kalau anda tidak suka mohon tinggalkan Komentar maupun saran anda.




Kisah bersama dokter di palembang.
Apotek Dempo
Nama Dokternya : Jimmi Sabirin 
Bagian : Spesialist saraf






































  





































































Welcome to My Blog

Visitor

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © My Diary -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -